Propolis, Dulu Dibuang Kini Disayang

Menjelang tutup tahun ini  dunia dikejutkan dengan kabar meninggalnya Eva Ekvall, mantan juara kontes kecantikan Venezuela sekaligus juara ke-3 kontes ratu sejagat 2001. Ekvall meninggal di rumah sakit Houston Texas karena kanker payudara. Model berusia 28 tahun ini akhirnya menyerah setelah berjuang selama hampir 2 tahun.

Seperti kebanyakan kasus kanker payudara, Ekvall pun terlambat saat mengetahui dirinya telah terjangkiti kanker. Benjolan pada payudara pada awalnya hanya dianggap sebagai gejala normal akibat kehamilan. Namun begitu dokter memberikan diagnosa pada Februari 2010, barulah ia tersadar, ancaman maut telah berada di depan mata.

Kanker payudara memang masih menjadi momok paling menakutkan bagi wanita. Bahkan bagi kaum hawa, kanker payudara merupakan pembunuh nomor wahid yang sangat menakutkan. Yang lebih menakutkan, kanker payudara tidak hanya puas dengan “menjamah” payudara wanita saja, namun juga metastatis ke organ-organ tubuh lainnya.

Sebuah kasus terjadi di Surabaya dimana ada seorang wanita menderita kanker payudara stadium III. Sel-sel kanker tidak puas hanya “menginvasi” payudara saja namun merambat ke lever hingga terjadilah sirosis atau kanker hati. Sebagaimana kanker pada umumnya, stadium III ditandai dengan gejala khas berupa rasa sakit yang hebat bagai tusukan ribuan jarum. Usai menjalani tes kadar CA15-3, untuk mengetahui antigen tumor payudara, pasien mendapat kenyataan yang begitu menyakitkan. Kadar CA yang semestinya maksimal 30U/ml, ternyata mencapai 172,95 U/ml. Pada kondisi seperti ini dokter memberikan prediksi bahwa kemungkinan sembuh hanya 5%.

Tapi apa mau dikata? Kecewa, sedih atau marah tentu tidak akan menyelesaikan masalah. Bagaimanapun life must go on. Pilihan pun jatuh pada bipsi dan kemoterapi seperti yang disarankan dokter. Biaya untuk sekali biopsi Rp. 3,5 juta sementara kemoterapi membutuhkan Rp. 6 juta untuk sekali terapi. Padahal yang disarankan dokter setidaknya menjalani 8 kali kemoterapi. Hasilnya tentu bukan angka yang kecil, apalagi untuk kalangan menengah ke bawah.

Setelah menjalankan terapi mahal itu, kanker hati dinyatakan sembuh oleh dokter. Namun bencana belumlah usai. Pasien terkejut ketika mendapati benjolan lain di payudara yang kian hari kian membesar. Dokter pun menyarankan untuk dilakukan pengangkatan payudara, satu hal yang tentu tidak dapat diterima seorang wanita dengan mudah. Pada kondisi seperti ini, kebanyakan pasien mulai melirik ke terapi herbal.

Pilihan pun jatuh pada propolis yang dicampur madu dan royal jelly. Seperti kata Ibu Kartini, “habis gelap terbitlah terang”, pasca mengkonsumsi herbal tersebut sebanyak 3 kali satu sendok makan dalam jangka waktu tertentu, benjolan payudara yang semula mencapai 4 cm berangsur mengecil hingga 0,5 cm. Rasa sakit pada tubuh pun berangsur hilang. Hilang dokter terheran-heran dengan efek yang ditimbulkan sejak mengkonsumsi propolis.

Apa sih propolis itu?

Propolis merupakan bahan campuran kompleks yang terdiri dari malam, resin, balsam, minyak dan polen. Propolis digunakan oleh lebah untuk menambah sarang mereka dan melindung sarang dari berbagai unsur asing seperti bakteri, virus, jamur maupun predator. Sebagai pelindung sarang, propolis memiliki efek antimikroba yang sangat tinggi, hingga pernah ditemukan bangkai tikus dalam sarang lebah yang tetap utuh meski telah berumur 5 tahun. Propolis lebah kaya akan kandungan antibakteri, anticendawan, dan antivirus sehingga sangat efektif bila digunakan untuk mengatasi diabetes, stroke, hepatitis, tuberkulosis, dan tentu saja kanker.

Lalu bagaimana cara kerja propolis membasmi sel-sel kanker? Propolis bekerja dengan cara memacu tubuh untuk membangun kembali daya tahan alami. Propolis mampu menghambat perkembangan sel kanker dengan cara apoptosis membunuh sel kanker secara langsung. Ini disebabkan karena propolis memiliki kandungan bahan aktif bernama Caffeic acid phenetyl ester (CAPE), yang terbukti mampu menghentikan pertumbuhan sel kanker.

Propolis juga memiliki kandungan flavonoid yang menghambat pembentukan protein kinase. Protein ini merupakan bahan makanan bagi sel kanker sekaligus pemicu penggandaan sel secara tak terkendali. Karena pengaruh flavonoid dalam propolis, sel kanker terprogram untuk melakukan bunuh diri atau apoptosis. Dengan banyaknya sel kanker yang melakukan apoptosis, maka kesembuhan penderita kanker tinggal menunggu waktu.

Terbukti Aman

Propolis juga terbukti sangat aman untuk dikonsumsi dan memiliki tingkat toksisitas yang sangat rendah. Dra. Mulyati Sarto, MSi, peneliti di Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, membuktikan dalam uji praklinis bahwa LD50 propolis mencapai lebih dari 10.000 mg. LD50 adalah lethal dosage atau dosis yang mematikan separuh hewan percobaan. Jika dikonversi, dosis tersebut setara 7 ons sekali konsumsi untuk manusia dengan bobot 70 kg. Fakta di lapangan jauh sekali, karena masyarakat paling hanya mengkonsumsi propolis 1 – 2 tetes dalam segelas air minum.

Ketika ditanya tentang efek jangka panjang propolis jika dikonsumsi dalam jangka waktu yang lama, Mulyati menegaskan, bahan suplemen purba itu sangat akan dikonsumsi. Master Biologi alumnus UGM itu juga menguji toksisitas subkronik propolis. Hasilnya, konsumsi propolis dalam jangka panjang tidak menimbulkan kerusakan pada darah, organ hati maupun ginjal sebagaimana yang jamak terjadi pada konsumsi obat-obatan kimia.

Melihat keampuhan dan rendahnya toksisitas propolis jika dikonsumsi jangka panjang, tak mengherankan jika banyak penderita penyakit kronis akhirnya berpaling padanya. Keampuhannya untuk mengatasi penyakit-penyakit seperti stroke, tuberkulosis, diabetes,jantung koroner bahkan kanker membuat “lem lebah” ini semakin diburu. Jika dahulu kita akrab dengan pepatah “habis manis sepah dibuang”, yang terjadi pada propolis adalah sebaliknya. Dulu dibuang, kini disayang.

Sumber: http://lamalifherbal.com/propolis-dulu-dibuang-kini-disayang & Majalah Proherbal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s